Hancurkan Keterbatasan…!

22 11 2009

dengan tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman  tentang sebuah training atau bisa di bilang seminar, yang di situ, Alhamdulillah terlibat sebagai panitia. sebuah seminar yang sangat menginspirasi menurut saya.

pembicaranya bernama Mas Rama, lengkapnya Eko Ramaditya. seorang tunanetra, nggak bisa melihat indahnya dunia. namun, dengan kebutaannya itu, ia sekarang bekerja sebagai composer musik untuk perusahaan game besar di Jepang, Nintendo. beberapa lagu yang ia buat untuk Nintendo, Game Chrono Cross dan Mario Galaxy. tahun depan Nintendo akan merilis Game terbaru yaitu Mario Galaxy 2, dengan musik yang di buat oleh Mas Rama.

beliau juga seorang penulis buku berjudul “Blind Power”, sebuah buku berisi tentang biografi beliau. Mas Rama ini juga seorang ahli musik, terutama suling. namun, ia mengaku sangat tidak mengerti apa itu not balok. Mas Rama juga salah satu penulis di Detik. well, mungkin temen-temen pernah liat Mas Rama ini di TV.

Alhamdulillah, sebelum hari seminar berlangsung, saya berkesempatan menghadiri sharing dengan Mas Rama bertempat di asrama PPSDMS Nurul Fikri. terus terang lebih tersentuh mendengarkan sharing Mas Rama di banding pas hari training, mungkin karena di asrama PPSDMS Nurul Fikri itu yang hadir sedikit, dan posisi duduk kayak halaqoh biasa.

malam itu, setelah Mas Rama menceritakan pekerjaannya, Mas Rama bilang, kira-kira begini, “kalo di perhatikan, sebenernya pekerjaan yang saya geluti sekarang ini pekerjaan yang biasa-biasa saja”, selanjutnya, “penulis buku, siapapun bisa, composer music, siapapun bisa..”. setelah mendengar kata-kata itu, ada sedikit teguran yang membuat saya bergumam, iya juga.

“tapi kenapa, seorang Eko Ramaditya malam hari ini hadir di hadapan temen-temen semua? ya, karena saya ini tuna netra..” lanjut Mas Rama, “itulah yang membuat mengapa pekerjaan yang saya lakukan ini menjadi spektakuler…”

statement yang lagi-lagi, membuat saya terpukul. mengapa? secara fisik, saya sempurna, kaki lengkap, tangan lengkap, mulut sehat, hidung sehat, mata siap melihat, tapi belum ada karya sedikitpun yang saya hasilkan.. astaghfirullah…

lalu Mas Rama melanjutkan, “yang saya lakukan adalah fokus pada solusi, bukan pada masalah yang saya hadapi, apakah jika saya menangis, meratapi kebutaan saya, keadaan saya akan berubah? tentu tidak… saya hanya berpegang teguh pada firman Allah, bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut merubah nasibnya sendiri, juga pada firman Allah, Allah tidak akan memebebani hamba-Nya melebihi kemampuan hamba-Nya…”

“ya, saya juga ingat tentang Law of Attraction yang ada di film The Secret, padahal ummat muslim udah duluan mengerti hal itu, bahwa Allah itu sesuai prasangka kita, karna itu, saya menganggap bahwa kebutaan saya ini merupakan sebuah anugrah…” lanjut Mas Rama, ” coba bayangkan, seandainya saya nggak tuna netra, bisa nggak saya hadir di sini?” setelah kata-kata itu, yang hadir di situ tertawa, lagi-lagi, iya juga ya…

“dengan fokus pada solusi, otak kita akan bekerja hanya untuk memikirkan solusi..” yap, kalau ada masalah, jangan masalah yang kita pikirkan, tapi cara keluar dari masalah tersebut, dengan tetap menghitung probabilitas-probabilitas yang akan terjadi (ciaelah, probabilitas, sok nih anak Teknik.. :p)

Lalu Mas Rama mengajarkan untuk selalu mengingat triple P, Positive Thinking, Positive Doing, dan Positive Talking. Hmm… mungkin saya sedikit memahami apa itu Positive Thinking dan Positive Doing, tapi saya masih agak bingung dengan Positive Talking.

setelah itu, ada sesi tanya jawab. ada seorang teman dari asrama yang mengajukan pertanyaan, di balik orang besar, pasti ada orang besar pula, lalu siapa orang besar di balik Mas Rama ini? Mas Rama menjawab, “Orang tua saya, karena mereka mau menerima keadaan saya,”

yap, pendidikan awal adalah pendidikan dari orang tua. buat antum nih, calon orang tua dari anak-anak antum nanti, jangan pernah memaki anak antum. satu makian kepada anak, harus terbalas dengan sembilan pujian (ini teori siapa gitu, saya lupa nyatet namanya..).

orang tua juga nggak boleh memberikan masukan negatif kepada anaknya. seperti masalah hantu dan kawan-kawan. kalau seorang anak masih kecil udah di takut-takutin begituan, hampir sangat pasti selamanya dia menanamkan di kepalanya, bahwa hantu itu menakutkan.

yap, usai sharing itu, saya masih sedikit ngobrol-ngobrol sama penghuni asrama, yang, waw… subhanallah… mahasiswa penghuni asrama ini orang-orang hebat semua. ada satu lemari khusus untuk plakat penghargaan penghuni asrama. subhanallah…

terlebih lagi, waktu saya sedang memperhatikan foto keluarga asrama. kakak senior saya lalu menunjuk seseorang di foto tersebut, orangnya menggunakan kaca mata, lalu senior saya bilang, “nih, IPK 4.00 , aktif di BEM KMFT, BEM KM UGM, sama di KMTE, sekarang lagi di Korea..” la haula wala quwwata illa billah…

sebuah pukulan telak kembali Allah berikan kepada saya malam itu, sebuah bukti nyata, bahwa ternyata ada, orang yang selama ini hampir saya anggap tidak ada. Allahuakbar.

di mulai dari sebuah kesadaran kalau saya ini sempurna secara fisik, dan saya harus bisa berkarya lebih dari Mas Rama, dan juga kesadaran, bahwa bukan hal yang tidak mungkin untuk mendapatkan IPK di atas 3.5 meskipun saya aktif di tiga organisasi. Allah… bantu hamba-Mu yang lemah ini…

————————————————————————————————-

saat hati di landa kekacauan, saya harus bisa…

di tengah hujan yang tanpa henti di Jogja

22 november 2009, Pakualaman, di sini aku harus mulai berkarya…!!





Refleksi Sebuah Perbincangan

9 11 2009

000Y051RY7V beberapa hari atau pekan yang lalu, ada sebuah perbincangan tentang sejarah, ya, sejarah, namun perbincangan ini bukan merupakan sejarah masa lalu, melainkan membincangkan sejara dunia yang akan datang.

 

 

kala itu, saya dan teman-teman yang bisa di sebut kelompok belajar lah kira-kira, secara tak sengaja menyinggung mengenai hal-hal politik. yap, busuknya politik negri tercinta ini.

namun, belum saatnya saya menguntai kata tentang politik itu sendiri. ada hal lain yang ingin saya sampaikan dari perbincangan saya dan teman-teman.

kenyataannya, kami membicarakan tentang bagaimana nasib dunia yang akan datang. salah seorang teman mencoba membahas tentang perhitungan suku aztec mengenai kiamat tahun2012.

ah, maafkan kami, mungkin kami terlalu percaya akan mitos-mitos seperti itu, namun, salah seorang teman saya memiliki penjelasan menarik mengenai hal tersebut.

sebagaimana suku aztec meramalkan, mereka tidak mengatakan kiamat, tetapi hanya mengatakan akan ada baai matahari (sepengetahuan kami). kami membayangkan, apa itu badai matahari? mengapa itu bisa terjadi? sayangnya, otak-otak penuh pemikiran misterius itu tak mampu berfikir seperti Isaac Newton yang hanya melihat apel yang jatuh.

salah seorang teman berpendapat, bahwa badai matahari itu mungkinlah episode awal dari hari akhir. menurutnya, badai matahari itu akan menghancurkan seluruh alat elektronik yang ada karena temperatur yang kelewat tinggi.ketika itulah, peradaban manusia di muka dunia akan kembali seperti zaman dahulu kala. tanpa listrik, lampu, atau alat elektronik apapun.

ya, pendapat ini lumayan kuat, kembali kepada dien kita, bahwa perang akhir zaman akan kembali kepada pedang, panah dan kuda (wallahualam).

lalu, mulai terbayang di pikiran kami, jika seandainya hal itulah yang akan terjadi di tahun 2012. Hmm… kuliah yang baru selesai, belum bisa membahagiakan orang tua, dan lain-lain.

dan yang utama, di mana maqom(posisi) kami ketika itu? di mana kami di mata Allah? apakah ketika hari itu tiba?

kemudian, tak terasa ternyata kejadian itu akan semakin dekat, saat muncul berita terbaru mengenai masjidil aqsha. masjid mulia yang kembali ternoda. saya ingat, seseorang pernah berkata, “seandainya masjidil aqsha hancur, itulah pertanda perang dunia, perang antara haq dan kebathilan, akan di mulai dari sirine tersebut…” (walahualam)

kami menyadari, masjidil aqsha sudah tak seperti dulu lagi, ia sudah di keroposkan oleh ummat yahudi. akankah secepat itu perang hari akhir tiba?

lalu kembali kepada sebuah statement, dimana maqom kami di hadapan Allah ketika hari itu tiba?

lalu salah seorang teman tiba-tiba mengatakan..

“Mm.. kalo kita yang sekarang, di bandingin sama para sahabat dulu, kita masuk surga nggak ya?”

Allahuakbar… sebuah pertanyaan yang membuat film-film buruk kehidupan saya terputar dengan jelas dalam layar yang ada di dalam kepala saya sendiri. membuat hati ini menunduk, kepala ini berat, wajah kami berubah menjadi seperti mendapat berita terburuk saat itu.

akhlaq para sahabat masih sangat jauh dari jangkauan saya. mengikuti satu sahabat saja rasanya, seperti melakukan hal yang aneh di zaman sekarang. kelemah lembutan Abu Bakar, jiwa heroik Umar bin Khattab, kecerdasan Ali bin Abi Thalib, ketabahan Bilal bin Rabbah, kesetiaan Siti Khadijah pada Rasulullah, juga, Thalhah bin Ubaidillah, yang tubuhnya memiliki lebih dari 70 luka tusukan.

Allahuakbar, masih jauh sekali kami dari para generasi sahabat Rasul-Mu. masih pantaskah kami mendapat gelar Ummat Terbaik sekarang ini.

hanya senyum yang kemudian kami lontarkan, sambil mengatakan, “nggak mungkin…”

jangankan di bandingkan dengan para sahabat, di bandingkan dengan para pejuang dakwah di bumi Indonesia ini saja kami masih sangat jauh di bawah mereka.namun, itu seharusnya tak menjadi sebuah hambatan untuk berjuang. kami harus tetap berusaha, sesulit apapun itu.

setelah itu perbincangan beranjak ke pembicaraan mengenai rindu akan keluarga yang berada jauh dari kami, ya, kami ini perantau, yang saya berharap, kami pantas di sebut sebagai musafir perjuangan. perjuangan  menegakkan kalimat Allah di manapun kami berada.

wallahualam…

————————————————————————————————-

lihat… langit semakin biru saat kita meninggalkan keburukan satu persatu… semakin terasa ringan hati ini untuk tersenyum… semoga Allah memberikan jalan-Nya yang terbaik… amiin…

Jogjakarta, 9 November 2009

salam hangat persaudaraan