Refleksi Sebuah Perbincangan

9 11 2009

000Y051RY7V beberapa hari atau pekan yang lalu, ada sebuah perbincangan tentang sejarah, ya, sejarah, namun perbincangan ini bukan merupakan sejarah masa lalu, melainkan membincangkan sejara dunia yang akan datang.

 

 

kala itu, saya dan teman-teman yang bisa di sebut kelompok belajar lah kira-kira, secara tak sengaja menyinggung mengenai hal-hal politik. yap, busuknya politik negri tercinta ini.

namun, belum saatnya saya menguntai kata tentang politik itu sendiri. ada hal lain yang ingin saya sampaikan dari perbincangan saya dan teman-teman.

kenyataannya, kami membicarakan tentang bagaimana nasib dunia yang akan datang. salah seorang teman mencoba membahas tentang perhitungan suku aztec mengenai kiamat tahun2012.

ah, maafkan kami, mungkin kami terlalu percaya akan mitos-mitos seperti itu, namun, salah seorang teman saya memiliki penjelasan menarik mengenai hal tersebut.

sebagaimana suku aztec meramalkan, mereka tidak mengatakan kiamat, tetapi hanya mengatakan akan ada baai matahari (sepengetahuan kami). kami membayangkan, apa itu badai matahari? mengapa itu bisa terjadi? sayangnya, otak-otak penuh pemikiran misterius itu tak mampu berfikir seperti Isaac Newton yang hanya melihat apel yang jatuh.

salah seorang teman berpendapat, bahwa badai matahari itu mungkinlah episode awal dari hari akhir. menurutnya, badai matahari itu akan menghancurkan seluruh alat elektronik yang ada karena temperatur yang kelewat tinggi.ketika itulah, peradaban manusia di muka dunia akan kembali seperti zaman dahulu kala. tanpa listrik, lampu, atau alat elektronik apapun.

ya, pendapat ini lumayan kuat, kembali kepada dien kita, bahwa perang akhir zaman akan kembali kepada pedang, panah dan kuda (wallahualam).

lalu, mulai terbayang di pikiran kami, jika seandainya hal itulah yang akan terjadi di tahun 2012. Hmm… kuliah yang baru selesai, belum bisa membahagiakan orang tua, dan lain-lain.

dan yang utama, di mana maqom(posisi) kami ketika itu? di mana kami di mata Allah? apakah ketika hari itu tiba?

kemudian, tak terasa ternyata kejadian itu akan semakin dekat, saat muncul berita terbaru mengenai masjidil aqsha. masjid mulia yang kembali ternoda. saya ingat, seseorang pernah berkata, “seandainya masjidil aqsha hancur, itulah pertanda perang dunia, perang antara haq dan kebathilan, akan di mulai dari sirine tersebut…” (walahualam)

kami menyadari, masjidil aqsha sudah tak seperti dulu lagi, ia sudah di keroposkan oleh ummat yahudi. akankah secepat itu perang hari akhir tiba?

lalu kembali kepada sebuah statement, dimana maqom kami di hadapan Allah ketika hari itu tiba?

lalu salah seorang teman tiba-tiba mengatakan..

“Mm.. kalo kita yang sekarang, di bandingin sama para sahabat dulu, kita masuk surga nggak ya?”

Allahuakbar… sebuah pertanyaan yang membuat film-film buruk kehidupan saya terputar dengan jelas dalam layar yang ada di dalam kepala saya sendiri. membuat hati ini menunduk, kepala ini berat, wajah kami berubah menjadi seperti mendapat berita terburuk saat itu.

akhlaq para sahabat masih sangat jauh dari jangkauan saya. mengikuti satu sahabat saja rasanya, seperti melakukan hal yang aneh di zaman sekarang. kelemah lembutan Abu Bakar, jiwa heroik Umar bin Khattab, kecerdasan Ali bin Abi Thalib, ketabahan Bilal bin Rabbah, kesetiaan Siti Khadijah pada Rasulullah, juga, Thalhah bin Ubaidillah, yang tubuhnya memiliki lebih dari 70 luka tusukan.

Allahuakbar, masih jauh sekali kami dari para generasi sahabat Rasul-Mu. masih pantaskah kami mendapat gelar Ummat Terbaik sekarang ini.

hanya senyum yang kemudian kami lontarkan, sambil mengatakan, “nggak mungkin…”

jangankan di bandingkan dengan para sahabat, di bandingkan dengan para pejuang dakwah di bumi Indonesia ini saja kami masih sangat jauh di bawah mereka.namun, itu seharusnya tak menjadi sebuah hambatan untuk berjuang. kami harus tetap berusaha, sesulit apapun itu.

setelah itu perbincangan beranjak ke pembicaraan mengenai rindu akan keluarga yang berada jauh dari kami, ya, kami ini perantau, yang saya berharap, kami pantas di sebut sebagai musafir perjuangan. perjuangan  menegakkan kalimat Allah di manapun kami berada.

wallahualam…

————————————————————————————————-

lihat… langit semakin biru saat kita meninggalkan keburukan satu persatu… semakin terasa ringan hati ini untuk tersenyum… semoga Allah memberikan jalan-Nya yang terbaik… amiin…

Jogjakarta, 9 November 2009

salam hangat persaudaraan





Karunia Mu

31 10 2009

Nasyid yang beberapa hari ini menemani saya…

Karunia Mu
Album : Cinta
Munsyid : The Fikr
http://liriknasyid.com

Birunya langit oh putihnya awan
Menjadikanku tertegun tertawan
Lambaian pohon oh menari – nari
Mengajak daku mengingat Ilahi

Semakin ku terlena dengan segala karunia
Tiada yang mampu menyaingi keagungan-MU
Akankah kudapati semua limpahan rahmat-Mu
Tapi kumalu karena itu tak pantas bagiku

Begitu banyak dosa tlah kulakukan
Akankah Engkau ampuni
Namun ku yakin Engkau maha penyayang
Pada hambanya yang berserah diri

Birunya langit oh putihnya awan
Menjadikanku tertegun tertawan
Lambaian pohon oh menari – nari
Mengajak daku mengingat Ilahi

Semakin ku terlena dengan segala karunia
Tiada yang mampu menyaingi keagungan-MU
Akankah kudapati semua limpahan rahmat-Mu
Tapi kumalu karena itu tak pantas bagiku

Begitu banyak dosa tlah kulakukan
Akankah Engkau ampuni
Namun ku yakin Engkau maha penyayang
Pada hambanya yang berserah diri

Semakin ku terlena dengan segala karunia
Tiada yang mampu menyaingi keagungan-MU
Akankah kudapati semua limpahan rahmat-Mu
Tapi kumalu karena itu tak pantas bagiku

Begitu banyak dosa tlah kulakukan
Akankah Engkau ampuni
Namun ku yakin Engkau maha penyayang
Pada hambanya yang berserah diri
Pada hambanya yang berserah diri

—————————————
maafkan aku ya Allah… telah lama ku nodai hatiku… bantu aku kembali membersihkannya…